Semarang, FAKTIVA.TV — Di antara riuh pembangunan Tol Semarang–Demak, seorang bocah sekolah dasar bernama Aulia harus menjalani rutinitas yang jauh dari kata aman. Siswa kelas 6 itu melangkah perlahan mengikuti ayahnya, Riady, yang lebih dulu berjalan sambil bertopang pada tongkat kayu. Jalur yang mereka lewati bukanlah jalan raya, melainkan susunan batu di tengah laut yang licin dan sewaktu-waktu diterjang ombak.
Hembusan angin laut yang kencang membuat tubuh Aulia beberapa kali kehilangan keseimbangan. Dengan refleks, ia menunduk dan berusaha mencari pijakan agar tidak terjatuh. Pada bagian tertentu yang dinilai terlalu berbahaya, sang ayah memilih menggendong Aulia agar mereka bisa melintas dengan selamat.
Jalur ekstrem sepanjang kurang lebih satu kilometer itu kini menjadi satu-satunya akses darat menuju Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Tak Gentar Demi Sekolah
Meski penuh risiko, Aulia mengaku tidak merasa takut harus melewati jalur tersebut setiap hari. Jalan batu di tengah laut itu adalah satu-satunya cara baginya untuk tetap bersekolah.
“Tidak (takut),” ucap Riady singkat sambil menggelengkan kepala saat ditemui, Rabu (28/1/2026).
Ia menyadari kondisi jalur yang dilewatinya jauh dari layak. Batu-batu disusun seadanya dan sulit dilalui, terutama bagi anak seusianya.
“Iya (lewat setiap hari), susah,” katanya singkat.
Daratan yang Kini Tenggelam
Dukuh Tambaksari dulunya merupakan wilayah daratan. Namun, kini kawasan tersebut telah berubah menjadi genangan air laut. Wilayah ini juga dikenal sebagai lokasi wisata religi Makam Terapung Syech Mudzakir. Di sekitarnya, belasan kepala keluarga masih bertahan hidup di rumah panggung yang berdiri di tengah genangan.
Untuk menuju sekolah, Yasin dan anak-anak lain harus meniti jalan batu di tengah laut, lalu melanjutkan perjalanan melalui jalan sempit dari papan kayu yang ditopang bambu. Material tersebut berasal dari area sekitar proyek pembangunan Tol Semarang–Demak.
Jalan Swadaya Rusak Dihantam Ombak
Riady (45), menjelaskan bahwa jalan yang dibangun secara swadaya oleh warga itu mengalami kerusakan parah setelah diterjang ombak besar sekitar sebulan lalu.
“Jalannya kemarin kena ombak, satu bulan yang lalu. Ombaknya besar, jadi jalannya rusak,” ujar Riady saat ditemui di lokasi, Rabu (28/1/2026).

