Demak, FAKTIVA.TV – Banjir masih melanda sejumlah desa di Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, hingga Jumat (16/1/2026). Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Desa Tridonorejo. Genangan air dipicu oleh curah hujan tinggi, air laut pasang (rob), serta rusaknya pintu kanal air di Dukuh Kripik.
Berdasarkan rekaman video yang beredar, pintu air yang terhubung ke Sungai Jajar terlihat mengalami kerusakan berat. Kondisi tersebut membuat aliran air tidak dapat dikendalikan saat debit sungai meningkat, sehingga air meluap ke area pemukiman warga.
Seorang warga setempat, Samsul (29), mengungkapkan bahwa saat ini penanganan yang dilakukan masih bersifat darurat. Pintu air yang jebol hanya ditutup menggunakan karung berisi tanah dan ditopang dengan pancang bambu.
“Hanya ditutup sak diisi tanah sama pancang bambu,” ujarnya, Jumat.
Ia mengaku khawatir upaya tersebut tidak akan bertahan lama, terutama jika hujan deras kembali turun dan debit Sungai Jajar meningkat. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memperparah banjir di wilayah Bonang.
“Kalau hujan tinggi, Bonang makin tenggelam, apalagi ditambah air Sungai Jajar yang besar,” katanya.
Hingga saat ini, banjir juga menggenangi ruas jalan Demak–Bonang sepanjang kurang lebih satu kilometer, mulai dari kawasan Polsek Bonang hingga perbatasan Desa Purworejo. Akses jalan tersebut sempat terganggu akibat genangan air.
Sementara itu, Kepala Desa Tridonorejo, Seni Kalistyo, membenarkan bahwa jebolnya pintu pembuangan air di Dukuh Kripik menjadi penyebab utama banjir yang merendam wilayahnya. Ia menyebutkan, saat air sungai naik, pintu kanal tidak dapat ditutup sehingga air langsung masuk ke pemukiman warga.
“Pintu pembuangan di Kripik jebol. Saat air sungai naik, pintu tidak bisa ditutup, sehingga seluruhnya masuk ke permukiman,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Akibat kejadian tersebut, dua dukuh di Desa Tridonorejo, yakni Dukuh Kaligawe dan Dukuh Kripik, terendam banjir. Meski belum merinci jumlah warga terdampak, air dilaporkan masuk ke rumah-rumah warga dengan ketinggian mencapai sekitar 35 sentimeter, terutama pada bangunan yang belum ditinggikan.
“Rumah yang belum meninggikan bangunannya tenggelam semua, air masuk rumah sekitar 35 sentimeter,” ungkapnya.
Selain disebabkan jebolnya pintu kanal, genangan air juga diperparah oleh kondisi rob yang menghambat aliran air keluar desa. Aliran yang tersendat membuat air bertahan lebih lama di kawasan pemukiman.
Ia pun berharap Pemerintah Kabupaten Demak dapat segera turun tangan untuk memperbaiki pintu kanal yang rusak, agar banjir di Desa Tridonorejo tidak semakin meluas dan merugikan warga.

