Semarang, FAKTIVA.TV – Operasional Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng terbukti menjadi motor utama pendapatan Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah sepanjang tahun 2025. Kontribusi signifikan dari layanan transportasi publik tersebut mendorong capaian pendapatan Dishub Jateng melampaui target yang telah ditetapkan.
Kepala Dishub Jawa Tengah, Arief Djatmiko, mengungkapkan bahwa realisasi pendapatan tahun 2025 mencapai sekitar Rp36 miliar atau setara 108 persen dari target. Dari total pendapatan sekitar Rp39 miliar, mayoritas disumbang oleh operasional Trans Jateng.
“Target pendapatan kemarin terlampaui hingga 108 persen. Dari total Rp39 miliar, sekitar Rp34 miliar berasal dari Trans Jateng,” ujar Arief saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan, dari seluruh koridor yang saat ini beroperasi, trayek Semarang–Bawen menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Tingginya okupansi penumpang di jalur tersebut dinilai sebagai faktor utama, mengingat lintasannya melewati kawasan industri dan pusat pendidikan.
“Kontribusi paling besar datang dari Semarang–Bawen. Ini trayek awal yang kami kembangkan dan jalurnya strategis, sehingga tingkat keterisian penumpang cukup tinggi,” jelasnya.
Koridor Semarang–Bawen saat ini dilayani sekitar 28 hingga 29 unit bus. Sementara itu, total armada Trans Jateng secara keseluruhan mencapai 115 unit, dengan sebagian besar telah beroperasi lebih dari satu dekade. Untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi publik, Dishub Jateng berencana melakukan peremajaan armada mulai tahun 2027.
“Yang pertama diremajakan tentu Semarang–Bawen karena banyak armada di sana berusia di atas 10 tahun. Untuk penambahan armada belum ada rencana, tapi peremajaan akan dimulai 2027, tergantung mekanisme pengadaan dan kerja sama dengan konsorsium,” imbuh Arief.
Saat ini, Trans Jateng melayani tujuh koridor, yakni Semarang–Bawen, Semarang–Grobogan, Semarang–Kendal, Solo–Wonogiri, Solo–Sragen, serta Magelang–Purworejo. Dibandingkan sektor lain seperti parkir dan terminal, pendapatan dari Trans Jateng masih mendominasi sepanjang 2025.
“Pendapatan dari sektor lain sifatnya masih normatif, seperti parkir kendaraan, kios terminal, hingga sewa gedung. Yang paling besar tetap dari Trans Jateng,” tuturnya.
Arief juga menyinggung keterbatasan kewenangan Dishub dalam pengelolaan parkir, khususnya di luar kawasan terminal, sehingga kontribusi sektor parkir belum maksimal. Meski demikian, pihaknya berupaya mengoptimalkan aset terminal, terutama di wilayah Solo Raya, untuk mendongkrak pendapatan daerah.
“Peningkatan cukup signifikan terlihat di Solo Raya. Terminal tipe B kita dorong optimalisasi asetnya,” katanya.
Ke depan, Dishub Jateng juga mendorong pemanfaatan terminal tidak hanya sebagai simpul transportasi di siang hari, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi pada malam hari guna meningkatkan nilai tambah dan pendapatan daerah.

