Jakarta, FAKTIVA.TV – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan keseriusan pemerintah dalam mengembangkan Museum Situs Pasir Angin di Kabupaten Bogor agar lebih hidup, informatif, dan diminati masyarakat, terutama kalangan muda. Upaya revitalisasi ini diharapkan mampu menjadikan situs bersejarah tersebut sebagai ruang belajar sejarah yang relevan dengan perkembangan zaman.
Hal itu disampaikan Fadli Zon saat melakukan kunjungan langsung ke Museum Situs Pasir Angin yang berada di Desa Pasir Angin, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Menurutnya, penguatan data temuan serta penataan kawasan menjadi langkah penting agar situs tersebut semakin menarik untuk dikunjungi.
“Ini adalah situs bersejarah yang ke depan perlu direvitalisasi dan dilengkapi data-data temuannya, sehingga bisa menjadi tempat belajar sejarah yang menarik bagi generasi muda,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Dalam peninjauan tersebut, Fadli melihat langsung berbagai tinggalan budaya yang menunjukkan kekayaan sejarah Pasir Angin. Ia menilai kawasan ini memiliki nilai penting karena merepresentasikan perjalanan panjang peradaban manusia dari masa ke masa.
“Di sini terlihat lapisan kebudayaan yang sangat lengkap, mulai dari era neolitik, klasik, hingga kolonial. Banyak temuan penting seperti arca dan artefak lain yang sudah disertai keterangan,” jelasnya.
Fadli juga menekankan bahwa Situs Pasir Angin tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari lanskap sejarah yang luas dan saling terhubung. Kawasan ini, menurutnya, tidak terlepas dari peran Sungai Cianten dan Cisadane sebagai pusat kehidupan dan peradaban di masa lalu.
“Situs ini sudah diteliti sejak tahun 1970-an. Ia merupakan bagian dari ekosistem besar yang berkaitan dengan sungai, yang pada masanya menjadi jalur kehidupan, peradaban, dan perdagangan,” paparnya.
Salah satu temuan penting dari kawasan Pasir Angin adalah topeng emas yang kini disimpan di BRIN Cibinong. Artefak tersebut dinilai memiliki makna besar dalam mengungkap kehidupan sosial dan budaya masyarakat masa lampau.
“Topeng emas ini memberikan gambaran tentang bagaimana kehidupan masyarakat yang pernah tinggal dan beraktivitas di sekitar Pasir Angin,” ungkap Fadli.
Selain tinggalan prasejarah dan klasik, kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah abad ke-20. Fadli turut meninjau Tugu Jepang yang menjadi penanda peristiwa pertempuran antara pasukan Sekutu dan Jepang pada masa Perang Dunia II.
“Bukit ini merupakan titik tertinggi yang strategis. Pada masanya, dari sini pergerakan pasukan dan jalannya pertempuran bisa terpantau dengan jelas,” tambahnya.
Museum Situs Pasir Angin sendiri dikenal sebagai kawasan bersejarah yang menyimpan beragam lapisan kebudayaan, dari prasejarah hingga masa sejarah modern. Penelitian intensif di lokasi ini dilakukan sejak 1970 hingga 1975 oleh tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di bawah pimpinan arkeolog R.P. Soejono.
Hasil ekskavasi tersebut menemukan berbagai artefak berbahan batu, besi, perunggu, tanah liat, obsidian, kaca, hingga gerabah. Pada 1976, dibangun sebuah gedung di sekitar area penggalian yang awalnya difungsikan sebagai tempat penyimpanan temuan.
Seiring perkembangan waktu, bangunan tersebut kemudian dikembangkan menjadi Museum Situs Pasir Angin, yang kini terbuka untuk umum sebagai sarana edukasi sekaligus pelestarian warisan sejarah bangsa.

