Jakarta, FAKTIVA.TV – Wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, kembali memicu perdebatan publik. Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak, menilai bahwa pengakuan yang paling tepat bagi Soeharto adalah gelar pahlawan kemerdekaan, bukan Pahlawan Nasional. Ia berpendapat, kontribusi Soeharto pada masa perjuangan fisik memiliki bobot sejarah yang signifikan, terutama dalam operasi pembebasan Yogyakarta.
Zaki menjelaskan, Soeharto merupakan salah satu tokoh yang berperan besar dalam serangan yang membuat TNI berhasil menguasai kembali Yogyakarta. “Gelar pahlawan kemerdekaan menurut saya lebih objektif dan lebih bisa diterima oleh berbagai kelompok masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, jika pemerintah memaksakan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto, hal itu dapat memicu perdebatan moral dan politik yang panjang. Ia menegaskan, penghargaan setinggi Pahlawan Nasional harus diberikan secara sangat selektif karena menyangkut standar moral publik dan marwah bangsa.
“Penghargaan Pahlawan Nasional bukan simbol yang diberikan secara sembarangan. Ini menyangkut martabat bangsa dan tidak boleh menjadi ruang kompromi politik,” kata Zaki.
Zaki juga mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati mengambil keputusan mengingat adanya penolakan dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk aktivis dan akademisi. “Melihat resistensi yang luas, pemerintah seyogianya menunda pemberian gelar tersebut agar tidak memicu perpecahan,” tambahnya.
Usulan Bahlil: Semua Presiden Layak Mendapat Gelar Pahlawan Nasional
Di tengah perdebatan itu, muncul pula usulan dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang mendorong agar seluruh presiden Indonesia diberi gelar Pahlawan Nasional.
“Kalau memungkinkan, semua mantan presiden sepatutnya dipertimbangkan untuk mendapat gelar pahlawan nasional,” kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (6/11/2025).
Selain Soeharto, ia menilai Presiden ke-3 BJ Habibie dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga layak memperoleh gelar tersebut karena kontribusi besar mereka terhadap negara. “Pak Gus Dur punya jasa luar biasa. Pak Habibie juga. Menurut saya semuanya pantas dipertimbangkan,” ujarnya.

